HomeArtikelSeasonal Affective Disorder, Kenapa Bisa Terjadi?

Seasonal Affective Disorder, Kenapa Bisa Terjadi?

Date:

Related stories

Bolehkah Anak Berqurban untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal? Ini Jawabannya!

Suara Online - Menjelang Hari Raya Idul Adha, banyak...

Hewan Qurban Jenis Ini Paling Banyak Dicari Warga Tahun 2026

Suara Online – Aktivitas pencarian hewan qurban mulai terlihat...

Jangan Asal Beli! Ini Tips Memilih Hewan Kurban Berkualitas 2026

Suara Online – Jangan asal membeli hewan kurban. Simak...
spot_imgspot_img

Suaraonline.com – Perubahan musim bukan hanya soal cuaca, tetapi juga bisa memengaruhi suasana hati. Kamu mungkin merasa lebih murung, lelah, atau kehilangan motivasi saat periode tertentu setiap tahun. 

Jika pola ini terjadi berulang sesuai musim, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan seasonal affective disorder, sebuah gangguan suasana hati yang dipicu perubahan lingkungan.

Penyebab Seasonal Affective Disorder

Seasonal affective disorder atau SAD umumnya muncul saat terjadi perubahan intensitas cahaya matahari. Di negara empat musim, kasus paling sering terjadi pada musim gugur dan musim dingin ketika durasi siang lebih pendek. 

Berkurangnya paparan cahaya memengaruhi ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur tidur dan energi. Ketika ritme ini terganggu, Kamu bisa merasa lelah sepanjang hari meskipun waktu tidur cukup.

Faktor biologis juga berperan. Paparan sinar matahari membantu tubuh memproduksi serotonin, zat kimia otak yang berhubungan dengan suasana hati. Saat cahaya berkurang, kadar serotonin dapat menurun sehingga muncul perasaan sedih atau kehilangan minat. 

Selain itu, hormon melatonin yang mengatur siklus tidur bisa meningkat berlebihan, membuat Kamu merasa lebih mengantuk dan kurang berenergi.

Namun seasonal affective disorder tidak hanya dipengaruhi cahaya. Faktor genetik, riwayat depresi, serta tingkat chronic stress dapat memperbesar risiko. 

Perubahan rutinitas, aktivitas yang berkurang, dan isolasi sosial selama musim tertentu juga dapat memperparah kondisi. Kombinasi faktor biologis dan psikologis inilah yang membuat SAD berbeda dari sekadar bad mood biasa.

Gejalanya meliputi perasaan sedih yang muncul hampir setiap hari dalam periode musim tertentu, kehilangan motivasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, serta kesulitan berkonsentrasi. Kamu mungkin merasa hari terasa lebih berat tanpa alasan jelas, padahal situasi eksternal tidak berubah drastis.

Mengurangin seasonal affective disorder bisa dimulai dengan menjaga paparan cahaya alami, terutama di pagi hari. Aktivitas fisik teratur membantu menstabilkan hormon dan meningkatkan suasana hati. 

Menjaga rutinitas tidur yang konsisten juga penting untuk menyeimbangkan ritme biologis. Jika gejala terasa intens dan mengganggu aktivitas harian, konsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah bijak.

Seasonal affective disorder bukan tanda kelemahan, melainkan respons tubuh terhadap perubahan lingkungan. Dengan memahami penyebabnya, Kamu dapat lebih peka terhadap pola suasana hati dan mengambil langkah pencegahan sebelum dampaknya semakin dalam.

Baca Juga: Tanda Inner Child Kamu Belum Sembuh

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here