Home Blog Page 44

3 Alasan Orang di Ghosting dalam Kehidupan Sosial, Kamu Pernah Mengalaminya?

Suaraonline.com –  Ghosting merupakan istilah yang digunakan untuk mengambarkan situasi dimana pihak A tiba-tiba menghilang dari pihak B. Padahal sebelumnya hubungan mereka dekat dan akrab.

Istilah ghosting juga kerap digunakan di media sosial untuk menggambarkan kondisi dimana salah satu pihak dinilai  diberikan harapan palsu lalu menghilang. 

Alasan Orang Di Ghosting dalam Kehidupan Sosial

Beberapa alasan mengapa orang di ghosting. Pertama, karena dia selalu cuek. Orang cuek sangat sulit di dekati.

Orang yang berusaha mendekatinya, diawal mungkin akan bersemangat, tapi lama-kelamaan akan sangat menguras emosi. 

Tidak heran, dalam beberapa kasus orang yang memiliki kepribadian seperti ini mudah mengalami hal semacam ini. Terutama jika yang mendekatinya hanya penasaran semata.

Kedua, karena selalu ada dan tidak punya batasan diri. Orang yang selalu ada di sisi orang lain, terkadang membuat keberadaanya tidak berarti.

Manusia memiliki sifat buruk, tidak akan menghargai sesuatu yang selalu ada dan mudah didapatkan. Layaknya uang kertas yang mengalami inflasi, tidak bernilai. 

Akibatnya, pelaku akan dengan mudah menghosting orang-orang dengan sikap semacam ini. 

Ketiga, terlalu mementingkan diri sendiri. Ini akan membuat orang merasa tidak dihargai. 

Minta selalu didengar dan dipahami, tanpa melakukan hal yang setimpal dapat mendorong orang untuk pergi dan menghilang darimu.

Jadi, itulah beberapa alasan mengapa orang di ghosting dalam kehidupan sosial. Adakah salah satunya yang kamu alami? 

Baca Juga:  3 Dampak Buruk Low Profile: Ternyata Bisa Merugikanmu Loh!

Penulis : Annisa Adelina Sumadillah

Siswa SD Lahap Santap Menu MBG, Warganet Soroti Kesenjangan Menu di Berbagai Daerah

Suara Online – Sebuah video yang diunggah akun Kabar-Kabari pada 14/0 2026 mendadak ramai diperbincangkan warganet. Dalam video tersebut, terlihat seorang siswa sekolah dasar menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sangat lahap.

Menu yang disajikan tampak sederhana namun bergizi, terdiri dari tiga buah rambutan, tumis ikan, serta irisan timun. Siswa tersebut terlihat menikmati makanannya dengan penuh semangat.

Momen yang menarik perhatian publik adalah ketika siswa itu sambil makan bertanya kepada gurunya, “Pak guru nggak makan?” Pertanyaan polos tersebut sontak mengundang beragam reaksi dari pengguna media sosial.

Video tersebut kemudian memicu perdebatan terkait kebijakan program MBG. Banyak warganet yang menilai menu yang ditampilkan dalam video tersebut sudah layak dan memenuhi unsur gizi bagi anak-anak sekolah.

Namun di sisi lain, sejumlah komentar juga menyoroti adanya perbedaan menu MBG di beberapa daerah. Beberapa pengguna media sosial bahkan membagikan pengalaman dan dokumentasi menu MBG dari wilayah lain yang dinilai berbeda kualitas maupun kelengkapannya.

Perbedaan tersebut memunculkan diskusi mengenai pemerataan dan standar pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia. Sebagian pihak berharap adanya pengawasan dan evaluasi agar kualitas menu yang diterima siswa bisa merata di setiap daerah.

Meski menu dalam video tersebut dinilai cukup baik, perdebatan mengenai program MBG masih terus bergulir di ruang publik, baik yang mendukung maupun yang mengkritisi implementasinya di lapangan.

Hingga kini, video tersebut masih ramai diperbincangkan dan menjadi salah satu topik yang memancing perhatian masyarakat di media sosial.

Baca Juga : Heboh! Sound Horeg dan Tarian Seksi Warnai SOTR di Jombang, Polisi Turun Tangan

Alasan Orang Perfeksionis Tidak Cocok Menjadi Penulis Artikel Online

Suaraonline.com – Banyak yang mengira menjadi penulis artikel online itu cocok untuk siapa saja, termasuk orang perfeksionis. 

Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Justru sifat perfeksionis sering membuat penulis kesulitan mengikuti ritme cepat dunia penulisan digital. 

Dan iya, meski terdengar kasar, beberapa orang perfeksionis memang lebih sering tersiksa daripada berkembang di bidang ini.

Alasan Orang Perfeksionis Tidak Cocok Menjadi Penulis Artikel Online

Menulis artikel online menuntut kecepatan sekaligus kepekaan membaca tren. 

Sementara orang perfeksionis cenderung ingin semuanya sempurna sebelum dipublikasikan. 

Padahal, platform digital tidak menyediakan waktu sebanyak itu. Menunggu artikel sempurna hanya membuat peluang lewat begitu saja.

Selain itu, sifat perfeksionisme sering membuat penulis terjebak pada revisi yang tidak berujung. 

Terlebih lagi proses riset yang pendek, membuat kedalaman tulisan yang dihasilkan rendah karena dunia artikel online membutuhkan riset singkat, padat, efektif. 

Menghasilkan tulisan yang dianggap tidak sempurna membuat mereka frustasi dan bahkan stres. Yang dapat berakibat pada kesehatan mental dan fisik mereka.

Tanpa kemampuan beradaptasi itu, profesi penulis artikel online bukanlah tempat yang ramah untuk orang perfeksionis bertahan.

Dan mungkin ini pahit, tapi jujur, artikel digital hidup dari kecepatan, keberlanjutan, dan konsistensi, bukan dari kesempurnaan absolut. 

Penulis yang kuat adalah mereka yang mampu menulis efektif, bukan mereka yang mengejar kesempurnaan yang tidak pernah selesai. 

Jadi, itulah alasan mengapa orang perfeksionis tidak cocok menjadi penulis artikel online. 

Editor : Annisa Adelina Sumadillah

Perjalanan Cinta Hinata Untuk Naruto: Saat Cinta Menjadi Alasan untuk Bertumbuh

Suaraonline.com – Jika kamu penikmat serial Anime Naruto, pasti kamu familiar dengan perjalanan cinta Hinata untuk Naruto. Sebuah perjalanan cinta yang bukan sekadar kisah karakter pendukung yang jatuh hati pada tokoh utama. 

Banyak orang menganggap perasaan itu terlalu “pasif”, tapi sebenarnya ada pelajaran besar tentang bagaimana cinta bisa mendorong seseorang untuk berkembang tanpa harus menuntut balasan. 

Perjalanan Cinta Hinata Untuk Naruto

Dalam setiap tahap kehidupannya, Cinta Hinata untuk Naruto hadir sebagai motivasi yang tenang namun kuat. 

Bukan cinta yang ribut, bukan cinta yang menuntut perhatian, tapi cinta yang membuat seseorang mau memperbaiki diri. 

Hinata tidak hanya diam, ia berlatih, menguatkan diri, dan membuktikan bahwa perasaannya mendorongnya untuk layak berdiri di samping orang yang dikaguminya.

Namun, tidak semua orang punya kekuatan seperti itu. Banyak yang mengira Hinata terlalu pasrah, padahal justru di situlah ketegasannya. 

Ia tidak memaksa Naruto untuk membalas perasaannya. Di balik Cinta Hinata untuk Naruto, ada keteguhan bahwa mencintai berarti mendukung dari jauh, sekaligus menjaga diri agar tidak kehilangan arah.

Di era sekarang, ketika cinta sering dianggap harus “diusahakan” dan selalu dipamerkan, sikap Hinata terasa kontras. Tapi kontras bukan berarti salah. 

Sikapnya justru menunjukkan bahwa cinta bukan soal memiliki, melainkan soal siapa dirimu saat mencintai.

Dan mungkin memang benar: Cinta Hinata untuk Naruto mengajarkan bahwa perasaan yang tulus tidak selalu harus terlihat besar. 

Terkadang, yang paling berpengaruh justru yang disimpan rapi dalam diam, cinta yang membuatmu bertumbuh, bukan runtuh.

Jadi itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan cinta Hinata pada Naruto. 

Editor : Annisa Adelina Sumadillah

Duka Penulis Artikel yang Sering Diremehkan: Cuma Nulis Doang, Apa Susahnya?

Suaraonline.com – Cuma nulis doang, apa susahnya? Kalimat itu adalah salah satu duka penulis artikel yang paling sering didengar dan jadi alasan profesi ini kerap diremehkan. 

Banyak yang menganggap pekerjaan menulis hanyalah kegiatan sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, padahal proses di baliknya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Duka Penulis Artikel yang Sering Terjadi

Menjadi penulis di era digital memang tampak keren, tetapi juga menyimpan ironi. 

Banyak orang melihat profesi ini seperti pekerjaan santai yang hanya perlu duduk dan mengetik. 

Kenyataannya, penulis harus memikirkan gagasan, memilih diksi, menyusun alur, dan memastikan tulisan tetap relevan bagi pembaca yang semakin kritis.

Dalam dunia yang bergerak cepat, terutama di media sosial, penulis artikel dituntut mengikuti tren, merespons fenomena sosial, dan tetap menjaga suara personal, semuanya dilakukan dalam waktu singkat.

Duka penulis artikel semakin terasa ketika tuntutan kuantitas mengalahkan kualitas. 

Penulis sering dikejar deadline, diminta menghasilkan banyak artikel dalam waktu singkat, sementara riset yang seharusnya menjadi pondasi tulisan justru harus dipersingkat atau bahkan dilewatkan.

Padahal, menulis bukan hanya merangkai kata. Tulisan yang baik harus punya nilai, informasi, dan manfaat bagi pembaca.

Tanpa riset dan waktu berpikir, tulisan mudah kehilangan kedalaman yang seharusnya menjadi ciri khas artikel bermutu. Namun, banyak orang yang tidak menganggap proses ini penting dan sangat sulit menjelaskan pada mereka.

Pada akhirnya, mereka hanya akan berkata “cuma nulis doang? Apa susahnya? 

Jadi, inilah duka penulis artikel yang sering terjadi. Orang-orang yang bekerja di dunia yang jarang menghargai proses, namun banyak orang tetap memilih bertahan karena menulis adalah ruang paling jujur untuk bersuara. 

Editor : Annisa Adelina Sumadillah

3 Bahaya Saat Sering Menjadi Tempat Curhat: Yuk, Kenali Batasan Dirimu

Suaraonline.com – Menjadi tempat curhat teman memang terlihat mulia, tapi ternyata ada bahaya saat sering menjadi tempat curhat yang sebaiknya kamu perhatikan.

Tidak semua orang sadar bahwa kebiasaan mendengarkan cerita orang lain terus-menerus bisa membuat mental ikut terkuras perlahan. Kadang, kamu terlalu fokus membantu sampai lupa menjaga dirimu sendiri.

Bahaya Saat Menjadi Tempat Curhat

Bahaya pertama muncul ketika kamu tanpa sadar mulai menyerap emosi orang lain. 

Mendengarkan keluhan, kesedihan, atau konflik setiap hari membuat pikiran ikut penuh dan bahkan mempengaruhi emosimu. 

Inilah salah satu bahaya saat sering menjadi tempat curhat yang bikin energi cepat habis, meski kamu tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Empati itu baik, tapi jika kebablasan justru melelahkan.

Bahaya kedua, kamu bisa jadi sasaran “pelarian” yang tidak sehat. Karena terlalu mudah diakses, orang-orang menganggapmu selalu siap mendengarkan kapanpun mereka mau. Kamu jadi seperti tong sampah orang untuk membuat energi negatif. 

Bahaya ketiga, kamu bisa kehilangan identitas dan kebutuhanmu. Terlalu sering fokus pada cerita orang lain membuatmu lupa bertanya pada dirimu sendiri. Semua waktumu tersita untuk masalah orang lain. 

Kamu jadi jarang memvalidasi perasaan sendiri karena terbiasa mendahulukan orang lain. Pelan-pelan, tong emosi penuh dan mirisnya kamu bahkan tidak mendapat ruang untuk mengeluarkan isi hati sendiri.

Pada akhirnya, mendengarkan itu baik, membantu orang yang membutuhkan didengar juga baik, tetapi tetap jaga dirimu, tetap prioritaskan dirimu. 

Kamu boleh hadir untuk orang lain, tapi jangan sampai bahaya saat sering menjadi tempat curhat membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Bantu seperlunya, dengarkan sewajarnya, dan izinkan dirimu untuk berkata “cukup.”

Editor: Annisa Adelina Sumadillah

Menkeu Purbaya Optimis Dinamika Tarif AS di Indonesia Bergerak Positif

Suaraonline.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah dinamika kebijakan tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) yang disampaikan pada Senin (23/02/2026) pada kanal Youtube @KemenkeuRI

Purbaya Yudhi Sadewa juga menyoroti mengenai keputusan terbaru Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal Presiden Trump yang menjadi peluang baik untuk Indonesia.

“Tapi dengan data yang sudah ada sekarang, saya pikir untuk Indonesia positif,” kata Purbaya dikutip melalui kanal Youtube KemenkeuRI (23/2/2026).

Menurutnya, hal yang terpenting yang difokuskan Indonesia yaitu dengan memperbaiki daya saing para pengusaha Indonesia dengan berbagai langkah. 

Tidak bisa dipungkiri jika ketahanan ekonomi Indonesia tercermin dari konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi yang mulai menunjukkan perbaikan, serta inflasi yang relatif terkendali. Pemerintah juga terus memperkuat bauran kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung dunia usaha menghadapi tekanan eksternal.

Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, Kementerian Keuangan optimistis bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang positif. Meski tantangan eksternal masih ada, fundamental ekonomi yang terjaga diyakini mampu menjadi penopang utama dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.

Baca Juga: Heboh! Sound Horeg dan Tarian Seksi Warnai SOTR di Jombang, Polisi Turun Tangan

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

Afirmasi Positif Tidak Selamanya Baik: Pahami Kapan Waktu Terbaik Memberi Afirmasi pada Diri Sendiri

Suaraonline.com – Banyak orang berfikir afirmasi positif akan selalu membawa hal-hal baik, terutama di sosial media yang seringkali mengatakan pentingnya afirmasi positif untuk diri sendiri.

Namun, ada kalanya afirmasi positif tidaklah baik, terutama bagi mereka yang memang dihadapkan pada sebuah permasalah yang harus dihadapi bukan dihindari apalagi berpura-pura tidak ada. 

Kapan Afirmasi Positif Sebaiknya Dilakukan? 

Jika afirmasi positif dilakukan di waktu yang salah, maka bukan akan memberikan dampak positif melainkan akan terasa seperti sedang membohongi diri sendiri. 

Dilansir dari @zerium, menjelaskan bahwa berdasarkan sains orang yang mengatakan afirmasi positif di waktu yang salah dapat memberikan dampak pemberontakan dari dalam.

Saat otak berada di fase beta dan aktif, maka afirmasi positif yang diucapkan untuk menenangkan pikiran atau perasaan buruk hanya akan terasa seperti topeng.

Otak yang aktif malah akan memberontak dan pikiran buruk akan semakin kuat.

Pada fase ini, saat ada perasaan buruk atau kecemasan datanga maka hal yang pertama harus dilakukan yaitu memvalidasi perasaan tersebut. 

Dengan memvalidasi dan menganggap perasaan itu ada, ini akan membantumu untuk bisa berpikir lebih jernih tanpa filter berusaha baik-baik saja. 

Afirmasi positif sebaiknya diucapkan saat otak berada di fase theta, ini merupakan gelombang emas otak untuk mudah menerima perkataan baik. 

Contohnya saat mau terlelap dan saat masih setengah sadar baru mau bangun tidur.

Jadi itulah  waktu yang tepat mengucapkan perkataan baik untuk diri sendiri sehingga dapat memberikan dampak yang diinginkan. 

Penulis: Annisa Adelina Sumadillah

3 Dampak Buruk Low Profile: Ternyata Bisa Merugikanmu Loh!

Suaraonline.com – Ternyata terdapat dampak buruk low profile. Low profile sendiri merupakan sikap rendah hati yang tidak ingin menonjol atau memperlihatkan kelebihan kita pada orang lain. 

Banyak orang menganggap sikap low profile itu selalu positif, tetapi kenyataannya tidak selalu begitu. Dalam beberapa situasi, terlalu merendah dan memilih untuk tidak terlihat justru bisa membuatmu kehilangan banyak kesempatan.

Dampak Buruk Low Profile yang Dapat Merugikan

Pertama, dampak buruk low profile terlihat ketika kontribusimu tidak terlihat oleh atasan atau tim. Kamu bekerja keras, tetapi karena terlalu diam dan tidak menunjukkan pencapaian, orang lain mendapatkan pengakuan yang seharusnya bisa kamu dapatkan. 

Sikap rendah hati berlebihan seringkali membuatmu kalah langkah. Karirmu jadi terancam stay di tempat.

Kedua, seseorang yang terlalu low profile bisa dianggap kurang percaya diri. Bukan berarti harus sombong, tapi dalam dunia kerja, kepercayaan diri menentukan bagaimana orang menilai kapasitasmu.

Ketika kamu selalu mengambil posisi aman, orang mengira kamu tidak punya ambisi atau tidak siap mengambil peran besar. Tidak jarang kamu juga dipandang sebelah mata oleh orang sekitarmu.

Ketiga, dampak buruk low profile tampak jelas ketika peluang datang. Orang yang tidak terlihat sering tidak dilibatkan dalam proyek penting atau keputusan strategis. 

Bukan karena tidak mampu, tetapi karena mereka tidak muncul ke permukaan. Dunia kerja tidak selalu menilai yang paling kompeten, tapi yang paling terlihat.

Keempat, sikap low profile berlebihan membuatmu mudah dimanfaatkan. Pernah lihat orang yang mengerjakan banyak tugas, tapi malah orang lain yang mendapat pujian? Ini sangat sering terjadi pada orang low profile.

Kamu jarang menolak, jarang bersuara, sehingga tugas tambahan sering dilemparkan kepadamu tanpa pertimbangan yang adil. Kamu bekerja banyak, tetapi apresiasinya minim.

Pada akhirnya, low profile itu baik, tapi kalau keterlaluan justru merugikan dirimu sendiri. 

Tidak apa-apa sesekali terlihat, tidak apa-apa menunjukkan kemampuan, dan tidak apa-apa menerima pengakuan selagi hal itu masih dalam batas normal dan wajar. Karena hidup bukan hanya soal kerendahan hati semata ada kalanya juga soal keberanian menjaga nilai diri.

Editor: Annisa Adelina Sumadillah

Heboh! Sound Horeg dan Tarian Seksi Warnai SOTR di Jombang, Polisi Turun Tangan

Suara Online – Jombang – Pawai Sahur on The Road (SOTR) di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur mendadak viral dan menuai kontroversi.

Kegiatan yang menggunakan sound horeg dan menampilkan tarian yang dinilai tidak pantas itu ramai dibicarakan di media sosial.

Mengutip informasi dari CNN Indonesia, kegiatan SOTR tersebut menjadi sorotan karena selain menggunakan sound system berukuran besar atau sound horeg, juga terdapat aksi tarian seksi yang dianggap tidak sesuai dengan suasana bulan Ramadan.

Video kegiatan tersebut beredar luas dan memancing berbagai reaksi dari warganet. Tak sedikit yang menyayangkan aksi tersebut karena dinilai mengganggu ketertiban serta mencoreng makna sahur di bulan suci.

Mengutip dari detikJatim, Kapolsek Ploso Kompol Achmad Chairuddin menyatakan kegiatan tersebut digelar tanpa izin dari pihak kepolisian maupun pemerintah desa setempat.

“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kadesnya (Jatibanjar) juga tidak tahu, tahunya dari warganya,” tegas Chairuddin, Senin (23/2).

Pihak kepolisian menyebut peristiwa serupa pernah terjadi pada pekan pertama Ramadan tahun lalu. Karena itu, Polsek Ploso mengaku telah melakukan langkah antisipasi secara preemtif agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada minggu berikutnya.

Kegiatan tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga menilai SOTR sebagai bentuk kreativitas anak muda dalam meramaikan sahur.

Namun, tidak sedikit pula yang menilai penggunaan sound horeg serta aksi tarian yang dianggap vulgar melampaui batas dan tidak mencerminkan nilai Ramadan.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait penyelenggara kegiatan tersebut serta potensi pelanggaran yang terjadi.

Peristiwa ini kembali menambah daftar polemik penggunaan sound horeg di berbagai daerah, khususnya ketika kegiatan dilakukan tanpa izin dan memicu keresahan warga.