Home Blog Page 14

Psikosomatis: Ketika Masalah Psikis Berubah Menjadi Penyakit Fisik dan 7 Cara Mencegahnya!

Suaraonline.com – Psikosomatis merupakan kondisi dimana seseorang mengalami masalah psikis namun justru berubah menjadi penyakit fisik yang justru membahayakan. Penyakit ini bisa sangat membahayakan jika seseorang stres, cemas, dan juga trauma secara berlebihan.

Oleh sebab itu, tak jarang banyak seseorang yang mengalami masalah mental atau psikisnya namun juga mempengaruhi kesehatan tubuhnya. Tak jarang mereka juga berat fisiknya mengalami penurunan drastis, tidak nafsu makan, tidak mau bersosialisasi atau cenderung mengurung diri, dan parahnya bisa sampai ke tahap bunuh diri.

Penyebab Psikosomatis

Ada berbagai macam penyebab seseorang mengalami psikosomatis yaitu:

1. Gaya Hidup yang Kacau

Seseorang yang memiliki gaya hidup kacau akan mudah mengalami psikosomatis. Tak jarang, orang yang memiliki penyakit ini sulit memprioritaskan keadaan, dan kesulitan dalam mengendalikan emosi diri.

2. Sulit Mengekspresikan Emosi 

Tak jarang, orang yang mengalami psikosomatis juga awalnya berasal dari seseorang yang sulit mengekspresikan emosinya. Hal ini bisa saja terjadi karena trauma di masa kecil yang tidak diberikan kesempatan untuk meluapkan perasaan emosional.

3. Mengkonsumsi Obat-obatan Terlarang

Psikosomatis juga terjadi karena seseorang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Tak jarang seseorang yang mengalami depresi berat melakukan hal ini. Oleh sebab itu, bukan hanya merusak kondisi psikisnya tetapi juga fisiknya.

Cara Mencegah Psikosomatis

Psikosomatis merupakan gejala yang wajib diwaspadai. Berikut ini cara mencegahnya:

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan sebuah terapi dari seorang ahli atau dokter. Terapi ini adalah jenis terapi yang paling umum dan mudah dilakukan. Setelah berkonsultasi dengan ahlinya, maka pasien bisa mengikuti tahap selanjutnya secara mandiri.

Terapi ini sangat bermanfaat untuk mengubah pola pikir, memperbaiki sikap, dan mengendalikan tingkat emosi seseorang. Selain itu, terapi ini juga dapat diikuti oleh berbagai macam kalangan usia.

2. Melakukan Meditasi

Meditasi akan membantu seseorang meringankan gejala stres dan cemas berlebihan. Dengan melakukan meditasi, gejala seperti psikosomatis bisa dicegah karena pikiran dan tubuh mendapatkan energi yang lebih positif.

3. Journaling

Cobalah untuk journaling secara rutin dengan mencurahkan hati dan pikiran melalui tulisan. Journaling akan membantu seseorang dalam menentukan prioritas kegiatan yang akan dijalani dalam sehari-hari sehingga tetap akan membuatnya produktif tanpa berlebihan.

4. Hindari Konsumsi Alkohol, Rokok, dan Obat Terlarang

Jauhilah konsumsi alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. Ketika sedang stres atau merasa pikiran penuh, cobalah untuk melakukan hal positif yang disukai supaya tidak melakukan pelarian ke hal yang negatif saat pikiran sedang kacau. Bukan hanya merusak pikiran, tetapi juga merusak tubuh secara perlahan.

5. Bersikap Realistis 

Mulailah untuk bersikap realistis dalam melihat berbagai hal yang ada. Jangan menaruh ekspektasi yang berlebihan atau harapan kepada orang lain. Jika hal itu tidak sesuai dengan yang dibayangkan, maka tidak akan menyakiti diri sendiri.

6. Mulai Menerima Diri

Segala kekurangan yang ada di dalam diri bukanlah sebuah aib melainkan sebuah fitrah sebagai seorang manusia yang dimana itu adalah hal yang normal. Jangan pernah jadikan kekurangan sebagai sebuah kelemahan namun cobalah untuk bangkit dan membangun potensi yang ada.

7. Lebih Dekat dengan Tuhan

Meningkatkan nilai spiritual dalam diri merupakan salah satu cara dalam mencegah penyakit. Agama bisa menjadi sebuah tameng dan alasan bagi seseorang untuk takut melakukan hal-hal yang buruk.

Itulah tadi pembahasan mengenai penyebab dan cara mencegah psikosomatis. Pada dasarnya, setiap gejala penyakit ada obatnya. Namun alangkah baiknya sebelum mengalaminya, kita bisa mencegahnya terlebih dahulu.

Banyak kita jumpai jika penyakit fisik itu bisa terjadi karena penyakit psikis yang dimana seseorang mengalami pikiran dan beban berlebihan yang kemudian memicu kesehatan fisiknya juga ikut menurun.

Baca Juga: Hyperempathy Syndrome: Ketika Merasakan Empati dari Orang Lain Terlalu Dalam dan 5 Ciri-cirinya!

Penulis: Suci Wulandari

Hyperempathy Syndrome: Ketika Merasakan Empati dari Orang Lain Terlalu Dalam dan 5 Ciri-cirinya!

Suaraonline.com – Hyperempathy syndrome merupakan keadaan seseorang yang terlalu peka terhadap perasaan emosional orang lain hingga mempengaruhi dirinya. Keadaan ini sering muncul saat teman, pasangan, atau keluarga bercerita tentang suatu hal kemudian justru membuat diri kita bertanggung jawab atas perasaan mereka.

Jika hal ini semakin tidak terkendali, maka akan menyebabkan diri sendiri sulit membedakan antara perasaan emosional orang lain atau dirinya. Kondisi ini justru akan membuat diri sendiri mengabaikan perasaan yang dimiliki dan cenderung ingin menyelesaikan permasalahan orang lain.

Bagaimana ciri-ciri hyperempathy syndrome? Yuk simak lebih lanjut!

Ciri-ciri Hyperempathy Syndrome

Empathy mampu membuat kita terhubung dengan orang lain dan menyadari pentingnya memahami perasaan orang lain yang ada di sekitar kita. Namun apa jadinya jika pemahaman tersebut justru terjadi secara berlebihan tanpa batas?

Itulah yang dinamakan hyperempathy syndrome yang dimana perasaan empati itu justru muncul secara berlebihan. Meskipun kurang empati itu tidak baik, namun empati yang berlebihan juga akan membawa dampak negatif.

Inilah ciri-ciri seseorang yang mengalami hyperempathy syndrome:

1. Emosionalnya Semakin Terkuras

Terlalu sering untuk merasakan perasaan orang lain dapat menyebabkan perasaan emosional diri sendiri semakin terkuras. Hal ini dapat terjadi karena kita terlalu lelah berinteraksi dengan orang lain.

2. Sulit Menentukan Batasan

Ciri-ciri lain bagi seseorang yang mengalami hyperempathy syndrome adalah sulit menentukan batasan antara dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, tak jarang seseorang yang memiliki syndrome ini sangat sulit menolak permintaan orang lain.

Kurangnya batasan ini juga dapat menyebabkan stres karena ia tidak memiliki ruang cukup bagi dirinya karena terlalu sibuk memikirkan perasaan dan masalah orang lain yang sama-sama tidak ada habisnya.

3. Mengalami Gangguan Kecemasan

Ketika orang lain sedang mengalami masalah, justru kita mendahulukan menyelesaikan masalah orang lain daripada masalah yang ada pada diri sendiri. Padahal penting bagi kita untuk menyelesaikan masalah pribadi dan tidak terlalu cemas terhadap permasalahan orang lain.

Coba bayangkan jika kita terus kepikiran dengan masalah orang lain maka yang ada masalah itu justru akan membuat beban di pikiran kita sendiri yang pada akhirnya malah merugikan diri sendiri.

4. Kurangnya Empati Terhadap Diri Sendiri

Ketika selalu fokus dan berempati terhadap masalah orang lain, justru membuat kita mengesampingkan masalah diri sendiri dan mengabaikan empati untuk diri. Padahal, penting bagi kita untuk tidak mengabaikan empati diri sendiri agar hidup semakin sejahterah.

5. Sering Overthinking

Ketika ada seseorang yang menceritakan masalahnya, justru akan membuat orang yang memiliki hyperempathy syndrome ini akan semakin overthinking. 

Ia merasa jika masalah orang lain itu adalah tanggung jawab yang harus segera dicarikan jalan keluar dan diselesaikan sehingga tidak akan membuatnya berlarut-larut dalam pikiran negatif.

Cara Mengelola Hyperempathy Syndrome

Supaya tidak merugikan diri sendiri, penting juga bagi kita dalam mengelola hyperempathy syndrome ini. Berikut ini cara yang tepat dalam mengelolanya:

1. Terapkan Batasan Emosional

Sangat penting bagi kita untuk bisa menerapkan batasan emosional antara diri sendiri dan orang lain. Kita tidak harus selalu dapat mengerti perasaan setiap orang.

2. Jangan Ragu Menolak Sesuatu

Jika ada suatu hal yang memang tidak bisa dikerjakan, jangan takut atau ragu untuk menolak permintaan orang lain. Mulailah berani untuk mengatakan “tidak” supaya nantinya juga tidak membebankan diri sendiri.

3. Fokus ke Diri Sendiri

Mulailah untuk fokus pada diri sendiri dengan melakukan hobi atau hal-hal yang disukai untuk menenangkan pikiran dan relaksasi.

Itulah tadi pembahasan mengenai ciri-ciri dan cara mengelola hyperempathy syndrome. Empati memang hal yang wajib diterapkan dalam kehidupan. Namun, alangkah baiknya juga tetap membatasi diri agar tidak memberikan perasaan empati tersebut secara berlebihan dan sampai merugikan diri sendiri.

Baca Juga: Butterfly Era: Perasaan Cinta dan Kagum dengan Seseorang serta Inilah 6 Ciri-cirinya!

Penulis: Suci Wulandari

Stop Multitasking: Fokus pada Satu Hal Justru Membuatmu Lebih Cepat Selesai

Suara Online Banyak orang bangga bilang dirinya jago multitasking. Bisa kerja sambil balas pesan, sambil buka media sosial, sambil dengar video YouTube, bahkan sambil ngerjain tugas lain sekaligus. 

Sekilas terlihat produktif, tapi kenyataannya kemmpuan ini justru membuat pekerjaan semakin lama selesai.

Tanpa kamu sadari, multitasking bikin otak bekerja jauh lebih berat daripada yang kamu bayangkan. 

Bukan hanya menghambat produktivitas, tetapi juga membuat kualitas hasil pekerjaan menurun. 

Karena itu, sudah saatnya kamu berhenti multitasking dan mulai fokus pada satu hal dalam satu waktu.

1. Otak Tidak Didesain untuk Multitasking

Meski sering dibangga-banggakan, faktanya otak manusia tidak bisa mengerjakan dua tugas fokus sekaligus. Otak hanya melakukan switching task, yaitu berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain. 

Setiap kali kamu berpindah fokus, otak butuh waktu untuk menyesuaikan diri kembali.

Akibatnya:

  • Pekerjaan jadi lebih lama,
  • Banyak detail terlewat,
  • Energi cepat habis,
  • Dan kamu jadi lebih mudah lelah mental.

Jadi, multitasking bukan menunjukkan kemampuan hebat justru tanda kamu memforsir otak tanpa hasil optimal.

2. Fokus Tunggal Membuatmu Lebih Produktif

Ketika kamu fokus pada satu hal, otak bekerja dengan kapasitas terbaiknya. Konsentrasi penuh membantu kamu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan lebih rapi. Kamu tidak perlu bolak-balik menata ulang pikiran seperti saat multitasking.

Fokus tunggal membuat:

  • Pekerjaan selesai lebih cepat,
  • Kualitas meningkat,
  • Dan kamu tidak mudah stres.

Faktanya, banyak orang sukses menggunakan prinsip single-tasking untuk mencapai hasil maksimal.

3. Mengurangi Kesalahan yang Tidak Perlu

Multitasking membuka peluang besar untuk membuat kesalahan, bahkan untuk hal-hal sederhana. Karena fokusmu terbagi, detail kecil mudah terlewat.

Contoh kecil:

  • Salah kirim pesan,
  • Salah hitung angka,
  • Typo yang tidak terlihat,
  • Atau melewatkan instruksi penting.

Dengan fokus pada satu tugas, kamu bisa melakukan pekerjaan lebih teliti dan minim error.

4. Meningkatkan Mindfulness dan Ketenangan

Single-tasking bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga soal kondisi emosional. Saat kamu fokus pada satu hal, pikiranmu lebih tenang. Kamu tidak merasa terburu-buru atau tertekan untuk menyelesaikan banyak hal sekaligus.

Kamu lebih mudah:

  • Menikmati proses kerja,
  • Merasa hadir sepenuhnya,
  • Dan lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Ini sangat membantu terutama kalau pekerjaanmu penuh tekanan.

5. Cara Mulai Berhenti Multitasking

Berhenti multitasking tidak berarti kamu harus berubah total dalam sehari. Kamu bisa mulai dari kebiasaan kecil yang sederhana, seperti:

• Buat tiga prioritas utama setiap hari.

Kerjakan satu per satu, bukan sekaligus.

• Matikan notifikasi saat sedang bekerja.

Agar fokusmu tidak terpotong.

• Gunakan teknik Pomodoro.

Fokus 25 menit → istirahat 5 menit.

• Rapikan meja kerja.

Meja yang berantakan mudah memicu distraksi.

• Jangan buka terlalu banyak aplikasi atau tab.

Kebiasaan kecil ini kalau konsisten dilakukan bisa mengubah pola kerja kamu menjadi lebih efektif.

Multitasking mungkin terlihat keren, tetapi sebenarnya menghambatmu mencapai hasil terbaik. 

Dengan fokus pada satu hal, kamu bisa bekerja lebih cepat, lebih tenang, dan lebih berkualitas. 

Jadi, mulai hari ini, coba fokus satu tugas dulu. Kamu bakal kaget sendiri betapa banyak yang bisa kamu selesaikan tanpa multitasking.

Butterfly Era: Perasaan Cinta dan Kagum dengan Seseorang serta Inilah 6 Ciri-cirinya!

Suaraonline.com – Butterfly era merupakan salah satu istilah yang tidak asing lagi terdengar di media sosial terutama kalangan gen z. Istilah tersebut bermakna ketika seseorang mengalami fase jatuh cinta dan kagum dengan seseorang maka perasaannya campur aduk seperti senang, gugup, malu menjadi satu.

Hal ini dinamakan butterfly era karena perasaan manusia tersebut diibaratkan sebagai metamorfosis ulat kepompong yang kemudian menjadi kupu-kupu sangat cantik. Pada perasaan manusia maka hal ini dikaitkan jika saat jatuh cinta mengalami perubahan gaya hidup, emosional, bahkan pola pikir.

Yuk simak ciri-cirinya!

Ciri-ciri Butterfly Era

Saat sedang mengalami kasmaran atau butterfly era, tentu ada perubahan atau ciri-ciri yang terjadi pada seseorang. Berikut ini adalah ciri-cirinya:

1. Rasa Gugup Berlebihan

Seseorang yang sedang dalam fase butterfly era pasti akan merasakan rasa gugup yang berlebihan terutama saat sedang bertemu orang yang ia kagumi. Jantung akan berdetak dengan sangat kencang, keringat dingin, dan kesulitan berbicara lancar.

2. Sering Salah Tingkah

Salah tingkah merupakan hal yang wajar dialami saat seseorang sedang jatuh cinta. Sering merapikan rambut, membenarkan baju, menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati dan hal-hal lainnya sehingga tidak ada kesalahan sekecil apapun ketika bertemu dengan orang yang ia kagumi.

3. Merasakan Kebahagiaan

Orang yang sedang dalam masa butterfly era pasti akan merasakan kebahagiaan dalam dirinya yang begitu mendalam. Ketika dulu tidak merasakan semangat dalam menjalani aktivitas, saat mengalami kasmaran biasanya seseorang akan lebih semangat dan bahagia.

4. Sulit Fokus Terhadap Sesuatu

Karena cenderung membayangkan dan memikirkan orang yang dicintai, biasanya orang yang sedang dalam fase kasmaran akan sulit fokus terhadap sesuatu. Hal ini merupakan tanda yang paling banyak dialami seseorang saat butterfly era.

5. Mencari Kesempatan Bertemu

Saat seseorang sedang dalam fase kasmaran, biasanya suka mencari-cari alasan untuk bertemu dengan orang yang ia kagumi. Ia akan sengaja menghadiri acara yang sama atau ikut terlibat dalam suatu hal dengan orang yang ia suka supaya bisa lebih intens untuk dekat.

6. Meningkatkan Kreativitas

Saat sedang dalam fase jatuh cinta, tak jarang seseorang juga makin semangat dalam melakukan kreativitas atau upgrade diri. Hal itu terjadi karena ia melihat kebiasaan dari orang yang ia kagumi agar bisa merasa setara dan paham dengan hal-hal yang disukainya.

Pembelajaran yang Dapat Diambil Saat Mengalami Butterfly Era

Jatuh cinta adalah fitrah manusia dan wajar ketika seseorang mengalami hal ini. Banyak orang yang menganggap ketika jatuh cinta akan menyebabkan menjadi bodoh dan gila. Namun hal tersebut kembali lagi pada diri dan bagaimana cara kita bersikap atau mengendalikannya.

Tidak selamanya orang yang sedang jatuh cinta akan terpengaruh hal-hal yang negatif. Faktanya, banyak pembelajaran yang dapat diambil saat seseorang sedang mengalami fase kasmaran ini yaitu:

1. Menghargai Sebuah Proses

Ketika hendak mendekati orang yang kita sukai pasti ada proses yang harus dilalui sebelum memastikan bahwa dia memang benar-benar suka dan jatuh cinta. Proses itu terkadang membutuhkan kesabaran dan waktu yang lama.

2. Mengajarkan Keikhlasan

Saat seseorang yang kita sukai tidak menyukai balik, maka kita tidak bisa memaksakan hal tersebut. Oleh karena itu, jika ada penolakan maka akan mengajarkan kita sebuah keikhlasan jika hal-hal yang kita kagumi belum tentu menjadi takdir terbaik bagi kita.

3. Membuat Semangat Upgrade Diri

Ketika kita menyukai orang yang paham agama pasti malu jika agamanya masih biasa-biasa saja. Ketika kita menyukai orang yang berpendidikan pasti malu kalau belum bisa berpendidikan tinggi, ketika menyukai orang yang gila kerja pasti akan malu juga ketika hanya bermalas-masalan.

Itulah sebabnya, saat sedang dalam fase butterfly era seseorang terkadang menjadi semangat untuk upgrade diri supaya lebih layak dan merasa pantas untuk bersanding dengan orang yang ia kagumi.

Itulah tadi pembahasan mengenai ciri-ciri dan pembelajaran yang didapat ketika mengalami butterfly era. Pada dasarnya, jatuh cinta bukan berarti hal yang buruk dan salah dirasakan oleh manusia.

Cinta merupakan perasaan yang normal, dan yang paling terpenting adalah kita dapat mengendalikan serta mengontrol perasaan tersebut agar tidak sampai merugikan diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga: Teknik Shadow Work: Proses Mengenal Diri dan 3 Cara Menerapkannya!

Penulis: Suci Wulandari

Pentingnya Planning Harian dalam Kesuksesan: Cara Sederhana agar Hidup Lebih Terarah

Suara Online Kalau kamu merasa harimu selalu berantakan, pekerjaan menumpuk, dan deadline tidak pernah selesai tepat waktu, mungkin masalahnya bukan pada kemampuanmu, tetapi pada tidak adanya planning harian. 

Banyak orang tidak sadar bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh kemampuan mengatur waktu dan membuat rencana setiap hari.

Kenapa Planning Harian Itu Penting?

Planning harian ibarat peta kecil yang kamu gunakan untuk menavigasi seluruh aktivitas dalam sehari. 

Tanpa peta itu, kamu mudah tersesat di tengah tugas-tugas yang tidak ada

 habisnya. Berikut alasan kenapa planning harian sangat penting dalam kehidupan dan perkembangan karir mu.

1. Mengurangi Risiko Hari Berantakan

Tanpa rencana, kamu menjalani hari hanya dengan memadamkan “kebakaran”, yaitu menyelesaikan tugas yang datang tiba-tiba tanpa prioritas jelas. 

Hasilnya, banyak pekerjaan penting tidak tersentuh, dan kamu merasa produktif padahal hanya sibuk.

Dengan membuat planning harian, kamu bisa mengatur apa yang perlu diselesaikan lebih dulu dan apa yang bisa ditunda. 

Kamu juga tahu kapan harus bekerja, kapan harus istirahat, dan kapan harus menyelesaikan urusan pribadi.

2. Membantu Menentukan Prioritas

Planning harian memaksa kamu untuk memilih apa yang paling penting. Tidak semua pekerjaan harus kamu lakukan hari itu juga. 

Menulis rencana membuat kamu bisa memilah antara tugas mendesak dan tugas penting.

Kamu bisa menggunakan metode sederhana seperti:

  • Top 3 task (tiga tugas utama setiap hari)
  • Eisenhower Matrix (penting vs mendesak)
  • Atau checklist sederhana.

Dengan begitu, energi dan waktu tidak terbuang untuk hal yang sebenarnya tidak memberi dampak besar.

3. Mencegah Penumpukan Deadline

Banyak orang stres bukan karena pekerjaannya sulit, tetapi karena semua dikerjakan sekaligus mendekati tenggat waktu. Dengan planning harian, kamu membagi setiap tugas menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikerjakan.

Hasilnya:

  • Pekerjaan terasa lebih ringan,
  • Tidak ada deadline yang datang tiba-tiba,
  • Dan kamu tidak mudah merasa kewalahan.

4. Membantu Menjaga Konsistensi

Kesuksesan bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling konsisten. Planning harian membuat kamu bekerja secara teratur, bukan hanya ketika semangat sedang tinggi. 

Setiap hari kamu punya arah yang jelas, sehingga progres tetap berjalan meski sedikit demi sedikit.

Konsistensi inilah yang membangun kebiasaan positif dan menjadi fondasi utama untuk mencapai tujuan jangka panjang.

5. Meningkatkan Fokus dan Mengurangi Distraksi

Ketika kamu tahu apa yang harus dikerjakan hari itu, otak lebih mudah fokus. Kamu tidak akan bingung memilih tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. 

Saat ada distraksi seperti media sosial atau obrolan yang tidak penting, kamu bisa kembali ke daftar rencana yang sudah kamu tulis.

Planning harian membuat produktivitas meningkat karena kamu punya kompas yang selalu bisa kamu lihat untuk kembali ke jalur yang benar.

6. Memberikan Rasa Kontrol atas Hidupmu

Tanpa planning harian, hari terasa seperti berjalan sendiri dan kamu hanya mengikuti arus. Dengan rencana, kamu menjadi pengatur waktu, bukan korban waktu.

Rasa kontrol ini penting untuk kesehatan mental karena kamu merasa hidupmu tidak berantakan, tidak kacau, dan tidak berjalan asal-asalan.

Planning harian bukan kegiatan yang menyita waktu. Cukup 5—10 menit di pagi atau malam hari untuk menuliskan rencana, kamu bisa menjalani hidup yang jauh lebih terarah. 

Jadi, kesuksesan bukan hanya tentang kerja keras, tetapi tentang bagaimana kamu mengelola waktu setiap hari.

Teknik Shadow Work: Proses Mengenal Diri dan 3 Cara Menerapkannya!

Suaraonline.com – Tanpa kita sadari, sering kali kita merasa marah, sedih, bahagia, kecewa, dan reaksi berlebihan tanpa tahu apa itu penyebabnya. Dalam mengetahui hal tersebut kita perlu yang namanya teknik shadow work.

Teknik shadow work merupakan salah satu istilah dalam dunia psikologi agar kita bisa memahami dan mengenal diri sendiri. Teknik ini sangat bermanfaat bagi kita supaya lebih mengenal diri jauh lebih dalam, memahami rasa emosionalnya, dan juga penerimaan hal-hal di masa lalu.

Yuk ketahui bersama cara menerapkannya!

Shadow Work dan Cara Menerapkannya

Pernahkah kita ingin bertanya sesuatu? Misalnya saja saat ada seminar dan narasumbernya memberikan kesempatan pada para peserta untuk bertanya, sebenarnya kita ingin angkat tangan dan mengajukan pertanyaan namun malah mengurungkan diri untuk bertanya?

Kondisi tersebut merupakan salah satu hal yang dinamakan shadow self telah tertahan. Untuk mengatasinya perlu yang namanya shadow work sehingga kita bisa belajar untuk mengelola keinginan yang sering kali diabaikan.

Berikut ini adalah beberapa cara menerapkan shadow work:

1. Journaling Setiap Hari

Journaling setiap hari merupakan salah satu langkah sederhana dalam memicu shadow self. Setiap orang yang menulis jurnal harian akan membantunya dalam mengungkapkan perasaan emosionalnya lewat tulisan. 

Hal ini akan merespon perasaan mendalam seseorang yang terpendam jika tidak mampu mengungkapkannya kepada siapapun. Menurut Dr. Pennebaker pada laman The New York Times, journaling dapat membantu kita untuk mengatur sesuatu yang ada dalam pikiran, bahkan bisa memahami trauma.

2. Meditasi

Cobalah untuk mulai rutin melakukan meditasi. Meditasi juga akan membantu membuat pikiran seseorang jauh lebih rileks, suasana hatinya menjadi lebih tenang, dan juga membuat pikirannya jauh lebih jernih.

Proses meditasi juga akan membantu seseorang untuk mengenal dirinya lebih dalam. Hal ini juga dapat membuat kita lebih memahami keinginan dalam diri.

3. Berdialog dengan Diri

Agar shadow work semakin berhasil, cobalah untuk berdialog dengan diri sendiri. Kenalilah dirimu lebih dalam dan pahami hal-hal yang diinginkan. Apa yang menjadi ketakutan selama ini? Hal-hal apa yang ingin dicapai?

Berdialog dengan diri sendiri akan mampu mengidentifikasi dan merefleksikan setiap masalah sebagai sebuah hal yang mampu diselesaikan dengan baik tanpa harus merasa takut dan cemas.

Manfaat Shadow Work dalam Kehidupan

Berikut ini adalah manfaat yang didapatkan ketika seseorang menerapkan shadow work dalam kehidupannya:

1. Menyembuhkan Luka Masa Lalu

Teknik ini dapat membantu kita dalam menyembuhkan luka masa lalu. Terkadang ada banyak trauma atau rasa sakit di masa lalu yang bisa terbawa dan tidak terlupakan sampai terbawa dewasa. Trauma dan rasa sakit tersebut dapat disembuhkan perlahan melalui teknik shadow work ini.

2. Meningkatkan Hubungan Baik

Teknik ini juga dapat membantu seseorang dapat meningkatkan hubungan baik dengan orang lain karena hal-hal buruk yang menjadi ketakutannya selama ini telah disembuhkan. Hal ini akan membuat seseorang berani untuk menjalin interaksi atau hubungan baik yang sehat dengan orang lain.

3. Membuat Diri Semakin Berkembang

Teknik ini juga akan membantu diri menjadi semakin berkembang lebih baik karena energi negatif dalam diri perlahan-lahan dilepaskan dan pada akhirnya seseorang mampu belajar dari masa lalu dan membuatnya semangat untuk berkembang di masa depan.

Itulah tadi cara menerapkan dan manfaat melakukan shadow work dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, setiap orang memiliki luka dan trauma yang membuatnya takut untuk maju dan berkembang.

Namun, hal tersebut harus segera diatasi dan dicegah supaya tidak membuat diri semakin rendah yang pada akhirnya hanya akan membuat kita rugi karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Baca Juga: Fenomena Female Breadwinner: Saat Perempuan Menjadi Pencari Nafkah Utama dan 5 Faktor Penyebabnya!

Penulis: Suci Wulandari

Cara Ampuh Mengatasi Rasa Mager dan Mulai Hidup Lebih Produktif

Suara Online Siapa sih yang tidak pernah mager? Rasanya pengin rebahan seharian, scroll media sosial tanpa sadar waktu berlalu, dan ujung-ujungnya ketiduran. 

Bangun sebentar, terus rebahan lagi dan scroll lagi. Pola itu terus berulang sampai entah sudah berapa jam yang hilang setiap harinya. 

Tanpa kita sadari, kebiasaan ini bisa berlangsung berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tahu-tahu tahun sudah berganti, tetapi hidup masih di tempat yang sama.

Padahal, resolusi tahunan sudah ditulis rapi. Di awal tahun semangat membara, merasa tahun ini akan berbeda. Namun seiring berjalannya waktu, resolusi hanya menjadi angin lewat karena rasa malas yang terus mendominasi. 

Cara Mengatasi Rasa Mager

Lalu, bagaimana sebenarnya cara mengatasi rasa mager agar kita bisa lebih produktif?

1. Kenali penyebab magermu

Mager bukan sekadar malas. Terkadang, itu tanda tubuh atau pikiran sedang lelah, jenuh, bosan, atau kewalahan dengan banyak hal. Coba tanya diri sendiri:

  • Apakah kamu kurang tidur?
  • Apakah tugasmu terlalu banyak sampai bingung mau mulai dari mana?
  • Atau kamu hanya kehilangan arah dan motivasi?

Dengan mengetahui penyebabnya, kamu bisa lebih mudah mencari solusinya.

2. Mulai dari tugas paling kecil

Rasa mager sering muncul karena kita melihat tugas terlalu besar dan terasa berat. Cara mengatasi rasa mager tersebut adalah memecah pekerjaan menjadi tugas kecil. Misalnya:

  • Bukan “target belajar 2 jam ”, tapi “belajar dulu 5 menit”,
  • Bukan “mulai kerjain kerjaan sampai tuntas”, tapi “mulai buka laptop kerjain 1 kerjaan”.

Tugas kecil membuat otak merasa pekerjaan lebih ringan, sehingga kamu lebih mudah memulai. Begitu sudah mulai, biasanya energi produktif akan mengikuti.

3. Gunakan teknik 5 menit

Kamu bisa bilang ke diri sendiri, “Aku kerjain 5 menit dulu.” Biasanya, otak akan lebih mudah menerimanya dibanding komitmen besar. Lucunya, setelah 5 menit berlalu, kamu akan merasa lebih nyaman melanjutkan. Kuncinya hanya mulai dulu.

4. Batasi penggunaan media sosial

Media sosial adalah penyebab terbesar rasa mager. Sekali scroll, bisa hilang satu jam tanpa terasa. Agar lebih produktif, kamu bisa mengatasi rasa mager tersebut dengan:

  • Atur timer 15–20 menit setiap buka aplikasi,
  • Taruh HP jauh dari jangkauan saat bekerja,
  • Atau aktifkan mode fokus.

Kebiasaan kecil ini bisa mengurangi distraksi dan mengembalikan kendali pada diri sendiri.

5. Atur jadwal harian sederhana

Tidak perlu jadwal yang ribet. Cukup tulis tiga hal penting yang ingin kamu selesaikan hari ini. 

Fokus pada tiga hal saja sudah cukup membuat hidupmu lebih terarah dan jauh dari mager. Semakin jelas tujuanmu, semakin kecil peluang untuk rebahan tanpa kontrol.

6. Berikan reward setelah menyelesaikan tugas

Manusia butuh apresiasi, bahkan dari diri sendiri. Misalnya:

  • Setelah beresin tugas, baru boleh nonton satu episode,
  • Setelah kerja satu jam, boleh minum kopi favorit.

Reward kecil membuat otak lebih semangat dan tidak melihat produktivitas sebagai beban.

7. Rawat tubuh dan mentalmu

Terkadang, rasa mager muncul karena tubuh kurang nutrisi, jarang bergerak, atau mental sedang jenuh. Pastikan kamu mengatasi rasa mager dengan cara:

  • Tidur cukup,
  • Makan makanan bergizi,
  • Minum air yang cukup,
  • Dan sesekali keluar rumah untuk dapat udara segar.

Tubuh yang sehat lebih mudah diajak produktif.

Mager itu manusiawi, semua orang mengalaminya. Tapi kalau dibiarkan terus-menerus, mager bisa mengikis waktu, peluang, dan masa depan. Kamu tidak perlu langsung berubah besar-besaran. 

Jadi, cukup mulai dari langkah kecil, 5 menit saja sudah cukup untuk mengatasi rasa mager yang menumpuk.

Fenomena Female Breadwinner: Saat Perempuan Menjadi Pencari Nafkah Utama dan 5 Faktor Penyebabnya!

Suaraonline.com – Menurut data badan pusat statistik di Indonesia, sekitar 14,37 persen pekerja yang ada di Indonesia masuk dalam kategori female breadwinner. Itu artinya, perempuan bekerja dan memiliki pendapatan paling dominan yang menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga.

Fenomena female breadwinner ini nyatanya tidak hanya terjadi kepada perempuan yang telah bercerai dengan suaminya atau bahkan suaminya telah meninggal dunia. 

Namun, fenomena ini juga di dominasi perempuan yang sudah berumah tangga dan suaminya masih ada namun justru menjadi peringkat tertinggi penyumbang data fenomena ini.

Definisi Female Breadwinner

Female breadwinner merupakan perempuan yang bekerja dan memiliki pendapatan terbesar di dalam keluarga. Fenomena ini dapat muncul karena ekonomi yang semakin tidak stabil sehingga memaksa keadaan perempuan untuk makin mandiri setidaknya dapat membiayai kebutuhan hidupnya sendiri.

Data ini sejalan dengan penelitian Drago dkk. (2004). Riset tersebut menunjukkan bahwa banyak perempuan terpaksa atau memilih menjadi pencari nafkah utama karena suami mereka memiliki pekerjaan dengan pendapatan rendah atau tidak stabil.

Faktor Penyebab Terjadinya Female Breadwinner

Faktor penyebab terjadinya female breadwinner ada beragam. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab fenomena ini:

1. Biaya Hidup Terus Meningkat

Female breadwinner tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang membuat perempuan terpaksa harus menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Salah satu faktornya yaitu biaya hidup terus meningkat.

Saat ini, kebutuhan hidup terutama ketika berumah tangga menjadi sangat banyak dan kadang kalanya ada di titik ekonomi semakin tidak stabil padahal biaya hidup terus meningkat. Inilah yang menyebabkan perempuan turut serta menopang ekonomi keluarga bahkan menjadi pencari nafkah yang utama karena gajinya lebih tinggi.

2. Meningkatnya Partisipasi Perempuan

Saat ini, partisipasi keikutsertaan perempuan dalam berbagai sektor terbuka sangat lebar. Oleh karena itu, banyak perempuan yang terjun langsung untuk bekerja di segala bidang bahkan menduduki posisi atau jabatan tinggi.

3. Kondisi Pasangan

Tak jarang, seorang perempuan terpaksa harus menjadi breadwinner karena kondisi pasangan. Hal ini beragam seperti pasangan yang tiba-tiba terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau juga masalah kesehatan yang menyebabkan pasangan tidak dapat bekerja yang dimana akan menyebabkan pendapatan tersebut menjadi tidak ada.

Tak jarang, akhirnya perempuan ikut turun tangan dalam membantu keadaan ekonomi suami demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

4. Pandangan Terhadap Kesetaraan Gender

Saat ini banyak suami yang tidak membatasi istrinya untuk tetap bekerja dan berkarya. Banyak orang yang semakin terbuka mengenai kesetaraan gender sehingga perempuan tidak harus selalu bekerja di dapur karena pekerjaan rumah tangga dapat dibagi.

5. Gaya Hidup dan Kemandirian Perempuan

Tak jarang, banyak perempuan yang tetap ingin hidup mandiri setelah menikah. Mereka ingin tetap menghasilkan uang untuk dirinya sendiri demi memenuhi gaya hidup atau kebutuhan lain dan tidak ingin membebani suami.

Ini merupakan salah satu nilai yang dimiliki perempuan. Itu artinya, perempuan tetap dapat memberikan penghasilan untuk dirinya sendiri bahkan juga bisa membantu dalam menopang ekonomi keluarga.

Itulah tadi pembahasan mengenai definisi dan juga faktor penyebab terjadinya female breadwinner. Pada dasarnya fenomena ini bisa menjadi peluang bagi perempuan untuk tetap bisa berkarya dan melakukan hobi.

Namun perlu digaris bawahi disini adalah, pentingnya komunikasi kepada pasangan. Jika memang perempuan harus bekerja karena keadaan, maka laki-laki sebagai suami tetap yang menjadi penopang utama dalam mencari nafkah di keluarga.

Baca Juga: Fenomena Copycat Suicide: Tindakan Bunuh Diri Karena Meniru Orang Lain dan 3 Cara Mengatasinya!

Penulis: Suci Wulandari

Cara Mengatasi Writer’s Block Tapi Dikejer Deadline

Suaraonline.com – Writer’s block sering datang di saat yang paling tidak tepat. Ide terasa kosong, kalimat sulit tersusun, sementara tenggat waktu semakin dekat. 

Namun, kabar buruknya, tekanan deadline membuat pikiran makin tegang, dan justru memperparah kebuntuan. Kamu mungkin sudah mencoba menatap layar lama, tetapi tidak ada satu paragraf pun yang terasa layak ditulis.

Cara Mengatasi Writer’s Block

Langkah pertama adalah berhenti menuntut kesempurnaan. Saat deadline mendekat, prioritas utama bukan menghasilkan tulisan terbaik, melainkan menyelesaikan draf terlebih dahulu. Izinkan diri menulis versi kasar tanpa terlalu banyak mengedit. Proses penyempurnaan bisa dilakukan setelah struktur dasar selesai.

Teknik lain yang efektif adalah memecah tulisan menjadi bagian kecil. Jangan langsung memikirkan keseluruhan artikel. Fokuslah pada satu subtopik atau satu paragraf saja. Target kecil terasa lebih ringan dan membantu otak kembali bergerak.

Mengganti metode kerja juga bisa membantu. Jika biasanya mengetik, cobalah menulis tangan atau berbicara lalu merekam ide secara spontan. Perubahan cara sering kali memicu sudut pandang baru dan mengurangi tekanan mental.

Selain itu, beri jeda singkat selama lima hingga sepuluh menit. Berdiri, berjalan sebentar, atau menarik napas dalam dapat membantu merilekskan pikiran. Ketika tubuh lebih tenang, ide cenderung lebih mudah muncul.

Terakhir, gunakan kerangka sederhana sebagai peta. Tulis poin utama terlebih dahulu, lalu kembangkan satu per satu. Dengan panduan yang jelas, kamu tidak perlu terus-menerus bertanya harus mulai dari mana.

Writer’s block di bawah tekanan memang menantang, tetapi bukan akhir segalanya. Dengan strategi yang tepat dan fokus pada progres kecil, tulisan tetap bisa selesai tepat waktu tanpa terjebak dalam stres berlebihan.

Baca Juga: Simple Habit untuk Hidup Lebih Tenang

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

Mengenal Berbagai Bentuk Manipulasi Psikologis yang Sering Tidak Kita Sadari

Suaraonline.com – Pernahkah kamu merasa bersalah padahal kamu tidak melakukan kesalahan apa pun? Atau mungkin kamu mulai meragukan ingatanmu sendiri karena ucapan seseorang yang begitu meyakinkan? Jika iya, ada kemungkinan kamu sedang berhadapan dengan bentuk manipulasi psikologis.

​Manipulasi sering kali datang dengan sangat halus. Ia tidak selalu berupa bentakan atau paksaan fisik. Seringnya, ia justru menyusup melalui kata-kata manis, perhatian yang berlebihan, atau sikap diam yang menyiksa. Mari kita bicarakan ini dengan lebih dalam dan santai agar kita bisa lebih waspada.

​Apa Itu Manipulasi Psikologis?

​Secara sederhana, manipulasi adalah cara seseorang untuk mengendalikan atau memengaruhi orang lain demi keuntungan pribadi. Pelakunya, yang sering disebut manipulator, akan memanfaatkan kelemahan, rasa empati, atau rasa takutmu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini bisa terjadi di mana saja, mulai dari hubungan asmara, lingkungan kerja, hingga lingkaran keluarga.

​Bentuk Manipulasi yang Perlu Kamu Waspadai

​Dunia psikologi mengenal berbagai taktik yang sering digunakan. Berikut adalah beberapa yang paling umum terjadi di kehidupan sehari-hari.

  • ​Gaslighting

Ini adalah salah satu bentuk yang paling berbahaya. Pelaku akan membuat kamu mempertanyakan realitasmu sendiri. Kalimat seperti “Kamu terlalu sensitif” atau “Aku tidak pernah bilang begitu, kamu salah ingat” adalah senjata mereka untuk membuat kamu merasa tidak stabil secara mental.

  • ​Guilt Tripping (Menanamkan Rasa Bersalah)

Manipulator sangat ahli dalam membuat kamu merasa sebagai orang jahat. Mereka akan mengungkit semua kebaikan yang pernah mereka lakukan agar kamu merasa berutang budi dan akhirnya menuruti kemauan mereka.

  • ​Silent Treatment

Pernah didiamkan tanpa alasan yang jelas setelah terjadi konflik? Ini bukan sekadar ingin tenang, tetapi bentuk hukuman agar kamu merasa tidak nyaman dan akhirnya meminta maaf lebih dulu, meskipun kamu tidak salah.

  • ​Love Bombing

Di awal hubungan, mereka akan menghujanimu dengan perhatian dan pujian luar biasa. Tujuannya adalah membangun ketergantungan emosional yang kuat sebelum akhirnya mereka mulai mengontrol perilakumu.

  • ​Playing the Victim

Saat mereka melakukan kesalahan, mereka justru memutarbalikkan fakta sehingga terlihat seolah-olah merekalah yang tersakiti. Dengan cara ini, perhatian akan beralih dari kesalahan mereka ke rasa kasihanmu.

​Bagaimana Cara Menghadapi Orang Manipulatif?

​Menghadapi situasi ini memang tidak mudah, terutama jika pelakunya adalah orang terdekat. Namun, kesehatan mental kamu adalah prioritas utama. Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah mempercayai instingmu. Jika ada sesuatu yang terasa salah, kemungkinan besar memang ada yang tidak beres.

​Cobalah untuk menetapkan batasan yang tegas. Jangan takut untuk berkata tidak dan berhentilah mencari validasi dari orang yang terus menerus merendahkanmu. Jika situasinya semakin berat, mencari bantuan profesional seperti psikolog adalah langkah yang sangat bijak.

Baca Juga: 5 Bahaya Love Bombing dan Tahapannya, Awas! Jangan Sampai Salah Pilih Pasangan!